WEF Global Risks Report 2026: Risiko Pengangguran & Peluang Ekonomi di Indonesia, Ini 5 Strategi UMKM Hadapi 2026–2028

WEF Global Risks Report 2026: Risiko Pengangguran & Peluang Ekonomi di Indonesia, Ini 5 Strategi UMKM Hadapi 2026–2028

World Economic Forum (WEF) memberikan laporan Global Risks Report 2026 yang menempatkan Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki risiko tinggi soal peluang ekonomi dan tingginya risiko pengangguran dalam periode 2026-2028. 

Indonesia termasuk salah satu dari 27 negara yang diprediksi menghadapi tantangan struktural serius berupa kurangnya penciptaan lapangan kerja dan minimnya peluang ekonomi di masyarakat. Risiko ini tidak hanya berdampak pada angka pengangguran, tetapi juga mencerminkan stagnasi mobilitas sosial, ketimpangan kesempatan, dan tekanan terhadap layanan publik seperti pendidikan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. 

Bonus demografi yang selama ini menjadi potensi besar Indonesia justru berisiko tidak termanfaatkan optimal jika penciptaan lapangan kerja berkualitas tidak meningkat. 

Nah, kondisi saat ini tentu saja bakalan berdampak ke bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Misalnya dari sisi kesempatan ekonomi yang terbatas, terutama generasi muda, mungkin akan menghadapi keterbatasan pilihan pekerjaan bila kesempatan ekonomi tidak meningkat. Ini berpotensi menekan daya beli pelanggan dan mempengaruhi permintaan terhadap produk UKM.  Dampaknya, iklim usaha bisa menjadi kurang kondusif bagi perkembangan UKM baru maupun yang sudah berjalan. 

Memasuki tahun yang baru tentu saja ini langsung memberikan ujian berat bagi pelaku UKM yang sebagian besar memiliki modal yang seret. Lalu untuk menyikapi kondisi ini, tentu saja ada beberapa pilihan yang diambil. 

1. Fokus pada Keterampilan dan Pendidikan

UKM bisa mengembangkan program pelatihan internal, bermitra dengan lembaga pendidikan atau training provider, untuk meningkatkan keterampilan pekerja sesuai kebutuhan pasar kerja saat ini. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan keterampilan sekaligus meningkatkan produktivitas usaha.

2. Diversifikasi dan Inovasi Produk

Mengembangkan produk atau layanan yang lebih beragam terutama yang memanfaatkan teknologi digital akan membantu UKM menangkap pangsa pasar baru sekaligus menciptakan nilai tambah. UKM yang lebih inovatif cenderung lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.

3. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Komunitas

Pelaku UKM dapat lebih aktif mengakses program pemerintah maupun komunitas bisnis yang bertujuan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan akses pembiayaan. Partisipasi dalam asosiasi UKM juga bisa membantu memperkuat suara advokasi dan kolaborasi dengan pemangku kebijakan.

4. Digitalisasi Usaha

Investasi pada digitalisasi proses usaha dan pemasaran dapat membuka peluang pasar yang lebih luas serta efisiensi operasional. Hal ini juga dapat meningkatkan daya saing UKM di era ekonomi digital.

5. Selektif dalam mencari pinjaman

Jika memang belum ada kebutuhan untuk ekspansi usaha, para pemain UKM ada baiknya untuk tidak terlalu agresif dalam mencari permodalan. Karena jika pinjaman akan berjalan terus bunganya juga terus bergulir. Jika memang ada kebutuhan dana, pemain UKM harus memiliki pinjaman dengan biaya dana yang lebih murah dan lebih panjang durasi pengembaliannya. 

Harapannya, pemain di tahun ini bisa terus memperkuat kemampuan adaptasi melalui peningkatan keterampilan SDM, inovasi produk, digitalisasi, dan kolaborasi strategis dengan berbagai pihak. 

Baca juga artikel lainnya:

Di tengah Tantangan UMKM, Fintech Hadir Menawarkan Solusi yang Lebih Mudah dan Efisien.

Tanda Tangan Elektronik & e-Meterai: Kenapa Penting di Era Transaksi dan Pembiayaan Digital?

Bagikan Artikel
WEF Global Risks Report 2026: Risiko Pengangguran & Peluang Ekonomi di Indonesia, Ini 5 Strategi UMKM Hadapi 2026–2028 | Batumbu - Berdayakan Usaha Indonesia