Perkembangan fintech di Indonesia semakin menggembirakan. Perlahan tapi pasti fintech atau khususnya P2P lending telah memicu lahirnya perusahaan-perusahaan penyedia teknologi untuk memfasilitasi layanan keuangan secara independent di luar lembaga keuangan konvensional. Kunci keberhasilan ini terletak pada inovasi perusahaan fintech dalam menciptakan aplikasi layanan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan konsumen (consumer driven).

Tumbuh pesatnya fintech P2P lending juga disebabkan minimnya akses masyarakat ke lembaga keuangan konvensional khusunya Bank. Dari sini lah muncul istilah unbanked people. Istilah ini merujuk kepada masyarakat yang membutuhkan pendanaan tetapi tidak memiliki collateral (jaminan), tidak memiliki usaha dengan usia yang matang, maupun tidak memenuhi syarat-syarat kelayakan lain untuk mendapatkan pinjaman Bank.

Selain faktor unbanked people, menjamurnya fintech lending juga dipengaruhi oleh perbedaan business model pelaku usaha tertentu dengan skema pinjaman perbankan. Jadi, mereka sebenarnya masuk radar perbankan. Usaha mereka layak dibiayai, tetapi karakteristik usaha nya tidak compatible dengan skema pembiayaan tradisional. Misalnya dalam hal angsuran, tenor pinjaman hingga prosedur pelunasan.

Potensi Indonesia

Sebagai negara dengan populasi penduduk terbanyak nomor 4 di dunia, dan dengan lebih dari 60% penduduknya mewakili usia kerja/usia produktif, perekonomian Indonesia memiliki potensi unik. Populasi usia kerja ini berpotensi untuk mendorong Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia melalui consumer spending dan local production capability. Namun menurut data IMF Indonesia diproyeksikan hanya menghasilkan 32% dari PDB per kapita negara Amerika Serikat, bahkan pada populasi puncak usia kerjanya pada tahun 2031. Proyeksi ini menunjukkan bahwa di Indonesia ada peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu elemen kunci yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara efektif adalah pemanfaatan kredit untuk meningkatkan pengeluaran dan mempercepat kemampuan produksi. Tetapi rasio pencairan pinjaman terhadap PDB di Indonesia juga masih sangat rendah, tercatat hanya 17% (International Monetary Fund,Asian Development Bank). Data ini menunjukkan kapasitas pembiayaan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Tanpa akses yang lebih baik ke pembiayaan, akan lebih sulit bagi individu dan UMKM di Indonesia untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Harapan bagi Indonesia muncul dari segmen pendapatan menengah dan pendapatan bawah atau UMKM. Laporan yang dirilis PWC pada Juni 2019 menyebutkan, individu di level middle dan low segment per kapita memainkan peran penting di dalam ekonomi Indonesia, di mana sebagian dari jumlah mereka merupakan populasi terbesar di Indonesia. Individu low segment per kapita adalah yang tertinggi dengan persentasi 60,2%, diikuti oleh segmen menengah atau middle dengan 38,7%.

Bila dikombinasikan, masyarakat per kapita menengah ke bawah hampir mencapai semua populasi penduduk usia kerja di Indonesia, namun sebagian besar dari mereka belum memiliki akses formal ke kredit Bank. Ada sekitar 186 juta individu usia kerja dan 63 juta bisnis UMKM di Indonesia. Dari jumlah ini, mayoritas UMKM belum memiliki akses untuk kredit dan belum terlayani oleh bank. Maka itu ada peluang besar bagi fintech untuk memanfaatkan celah ini agar dapat membantu penyaluran pemanfaatkan kredit dengan lebih merata.

Peran P2P Lending

Fintech lending menyediakan berbagai saluran akses bagi konsumen. Pemberi pinjaman konvensional seperti Bank memiliki keterbatasan untuk menyediakan akses pembiayaan yang memadai ke pasar yang kurang terlayani (unserved market). Hal ini menciptakan ruang inovasi melalui fintech dengan memanfaatkan kombinasi bisnis yang berbeda, model yang berbeda, dukungan teknologi dan pendekatan inovatif.

What we do in Batumbu?

Kami bertekad mewujudkan seluruh aspirasi pelaku UKM Indonesia dengan memberikan yang terbaik demi pertumbuhan UMKM dan ekonomi Indonesia. Kami menghubungkan Wira UKM yang sedang tumbuh dengan penyedia dana yang bisa memberikan pembiayaan dengan simpel, fleksibel, dan cepat. Dengan dokumen persyaratan yang minimal, Wira UKM bisa mendapatkan persetujuan pembiayaan dalam waktu 24 jam tanpa perlu agunan aset tetap dan tenor yang sangat fleksibel. Seluruh proses dilakukan secara digital melalui platform yang sederhana dan nyaman.

Berbekal itu semua, kami bersungguh-sungguh ingin mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia, ikut memajukan dan memberdayakan pelaku UMKM serta berpartisipasi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Referensi :

https://www.pwc.com/id/en/fintech/ PwC_FintechLendingThoughtLeadership_ ExecutiveSummary.pdf