Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran P2P Lending di Indonesia seakan menjadi angin segar yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya adalah para pelaku bisnis di Indonesia kini dapat memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan akses finansial. Dikutip dari CNBC Indonesia, hingga Agustus 2019, tercatat jumlah fintech yang terdaftar di OJK mencapai 128 fintech lending. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan penerimaan masyarakat yang juga semakin baik akan kehadiran fintech P2P Lending. Maka tidak berlebihan jika P2P Lending saat ini sedang menjadi primadona yang menjelma menjadi fenomena.

Akan tetapi bukan berarti P2P Lending aman tanpa adanya resiko. Setiap pendanaan pasti mengandung resiko. Tetapi bukan berarti potensi resiko tersebut lantas menjadikan P2P Lending menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. SobatBatumbu perlu tahu potensi resiko apa yang timbul dan tahu cara untuk meminimalisir resiko, adalah langkah pertama yang harus kamu pahami dulu.

Mari cari tahu cara mengatasi resiko pada P2P Lending :

  1. Kenali Platform
    Di Indonesia P2P lending diatur dalam POJK No.77 tahun 2018 yang secara lengkap mengatur tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Pastikan kamu yakin kalau platform dari P2P Lending yang kalian pilih sudah memiliki izin OJK. Ini penting karena bisa menghindarkan dari resiko terjebak dalam pendanaan fintech ilegal.
  2. Kenali Borrower
    Resiko terbesar dalam pendanaan P2P Lending adalah resiko gagal bayar/ default. Ada dua jenis resiko default yaitu disengaja dan tidak memiliki kemampuan untuk membayar. Seorang borrower mungkin mampu membayar kembali, namun kadang-kadang karena keadaan yang tidak terduga bahkan dengan niat terbaikpun, borrower mungkin tidak mampu membayar tepat waktu. Bagi pemberi pinjaman harus mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi ketika memilih pinjaman.
  3. Kenali Portofolio Anda
    Salah satu langkah yang paling penting dalam meredakan resiko pada P2P Lending adalah melakukan diversifikasi portofolio. Diversifikasi dalam P2P Lending menjadi cara cerdas dalam melindungi dana Anda. Dengan melakukan diversifikasi pendanaan kecil di sejumlah besar pinjaman yang tersebar di berbagai hasil dan parameter resiko seperti jenis industri, lokasi, tujuan pinjaman, usia, dll
  4. Kenali Prosesnya
    Penting bagi kamu untuk memahami skema bisnis dan adanya transparansi yang dijalankan oleh penyelenggara P2P Lending. Penyelenggara P2P Lending yang baik adalah mereka yang selalu mengedepankan transparansi di tiap proses bisnisnya. Tiap entitas P2P Lending wajib mencantumkan persentase TKB90 secara terbuka kepada publik. TKB90 merujuk pada ukuran tingkat keberhasilan dari penyelenggara P2P Lending dalam menyediakan fasilitas penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu 90 hari sejak tanggal jatuh tempo.
  5. Kenali Return Anda
    Memang hal yang lazim bila kita menginkan imbal hasil yang besar apalagi bila itu bisa didapatkan dalam waktu singkat. Banyak penyelenggara P2P Lending menjanjikan imbal hasil besar agar Anda tertarik. Tapi berhenti sejenak dan pelajari dulu kemungkinan return yang akan Anda dapatkan. Pastikan imbal hasil yang ditawarkan logis dan Anda punya perhitungan yang matang kapan dan bagaimana anda bisa mendapatkan return yang diharapkan.

Mitigasi resiko menjadi bagian terpenting yang harus mampu kita pahami ditengah tumbuh pesatnya industri P2P Lending di Indonesia. Resiko ada bukan untuk ditakuti, tapi diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Jangan sampai dengan adanya resiko bikin kamu jadi takut untuk memulai. Tahukah kamu, kalau keberhasilan penyaluran dana dan imbal hasil sesuai harapan dimulai dari berani memulai? Yup kamu enggak salah baca. Semuanya dimulai dari berani memulai sedini mungkin.

Ayo jadikan kehadiran P2P Lending di Indonesia sebagai momentum untuk tumbuh kembang usaha Anda.

Sumber referensi :

https://www.faircent.com/5-ways-to-reduce- risk-in-P2P-Lending.html