Dalam rangka mendukung pertumbuhan lembaga jasa keuangan berbasis teknologi informasi yang juga turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Maka Fintech yang lahir di Indonesia berdasarkan payung hukum OJK yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan ikut berkembang dengan berbagai jenis fintech.

#1 Peer-To-Peer Lending

Peer-to-peer lending adalah layanan mobile peminjaman dana masyarakat. Platform ini menjembatani antara peminjam uang dan pemberi pinjaman. Pengguna yang butuh uang tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pinjaman. Proses mendapatkan uangnya pun sangat mudah. Banyak keuntungan yang didapatkan dari layanan ini, beberapa di antaranya yaitu tidak perlu adanya agunan untuk pinjaman yang diajukan dan tidak ada pemeriksaan kelayakan dari platform. Namun tentunya masih ada kekurangan dalam layanan ini, yaitu maksimal dana yang tidak bisa sebanyak kita meminjam di bank, contoh dari layanan ini adalah InvestreeKoinworks, Batumbu.

 #2 Aggregator

Kedua, e-aggregator. Fintech ini menggumpulkan dan mengolah data yang bisa dimanfaatkan konsumen untuk membantu pengambilan keputusan. Startup ini memberikan perbandingan produk mulai dari harga, fitur hingga manfaat. Contohnya, Cekaja, Cermati.

#3 Manajemen resiko & investasi

Ketiga, manajemen resiko dan investasi. Fintech ini memberikan layanan seperti robo advisor (perangkat lunak yang memberikan layanan perencanaan keuangan dan platform e-trading dan e-insurance. Contohnya, Bareksa, Cekpremi.

#4 Payment & Settlement

Keempat, payment, clearing dan settlement. Ini adalah fintech yang memberikan layanan sistem pembayaran baik yang diselenggarakan oleh industri perbankan maupun yang dilakukan Bank Indonesia seperti Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI) hingga BI scripless Securities Settlement System (BI-SSSS). Contohnya, Kartuku, Doku, iPaymu.